Zircon


A.      PENDAHULUAN
Secara geologis, Indonesia mempunyai sumberdaya mineral, termasuk bahan galian industry yang sangat besar. Pembentukan pegunungan, aktivitas magma pada gunung-gunung api, serta proses sedimentasi yang telah berjalan dalam periode waktu yang lama selalu disertai dengan proses evolusi geologi yang mengakibatkan terjadinya proses pembentukan bahan galian. Berbagai indikasi adanya proses tersebut banyak dijumpai diberbagai tempat di kepulauan Indonesia. Potensi geologi yang sangat besar ini telah diakui pula para ahli di luar Indonesia, dalam laporan bank dunia.
Bahan galian industry  mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Peranan dan kehadirannya dalam kehidupan manusia seringkali tidak disadari, sebagai contoh, rumah tempat tinggal  yang sebagian besar komponennya terbuat produk padat bahan galian industry seperti bata, genting, semen, pasir, keramik, dan lain-lain.
Bahan galian industry adalah mineral-mineral non logam dan batuan yang digunakan sebagai bahan baku utama atau tambahan di dalam industry manufaktur dan kontruksi. Bahan galian industry dapat digunakan secara langsung dalam bentuk produk primer

B.       GANESA ZIRKON
Zirkon adalah mineral milik kelompok nesosilicates . Nama kimianya adalah zirkonium silikat dan rumus kimia yang sesuai adalah Zr Si O. Sebuah rumus empiris umum menunjukkan beberapa dari berbagai substitusi adalah zirkon (Zr 1-y, REE y) (SiO 4) 1-x (OH) 4x-y. Zirkon dalam bentuk silikat mencair dengan unsur-unsur yang tidak kompatibel terkonsentrasi dan menerima kekuatan tinggi bidang elemen ke dalam strukturnya. Sebagai contoh, hafnium hampir selalu hadir dalam jumlah berkisar antara 1 sampai 4%. Struktur kristal zirkon adalah tetragonal sistem kristal . Warna alami dari zirkon bervariasi antara berwarna hijau, kuning-keemasan, merah, coklat, biru, dan spesimen tak berwarna yang menunjukkan kualitas permata adalah pengganti populer untuk berlian ; spesimen ini juga dikenal sebagai "berlian Matura".
Yang bahasa Inggris kata "Zirkon" berasal dari "Zirkon," yang merupakan Jerman adaptasi dari kata-kata  zirkon Kuning disebut "eceng gondok", dari bunga hyacinthus , yang namanya berasal dari Yunani Kuno, di Abad Pertengahan semua batu kuning asal India Timur disebut gondok, ta Mineral utama yang mengandung unsur zirkonium adalah zirkon/zirkonium silika (ZrO2.SiO2) dan baddeleyit/zirkonium oksida (ZrO2). Kedua mineral ini dijumpai dalam bentuk senyawa dengan hafnium. Pada umumnya zirkon mengandung unsur besi, kalsium sodium, mangan, dan unsur lainnya yang menyebabkan warna pada zirkon bervariasi, seperti putih bening hingga kuning, kehijauan, coklat kemerahan, kuning kecoklatan, dan gelap, sisitim kristal monoklin, prismatik, dipiramida, dan ditetragonal, kilap lilin sampai logam, belahan sempurna – tidak beraturan, kekerasan 6,5 – 7,5, berat jenis 4,6 – 5,8, indeks refraksi 1,92 – 2,19, hilang pijar 0,1%, dan titik lebur 2.5000C.
Gambar : Peta sebaran zircon di Indonesia

Zircon terbentuk sebagai mineral ikutan (accessory mineral) pada baatuan yang terutama mengandung Na-feldpar, seperti bataun beku asam (granit dan syenit) dan bataun metamorf (gneiss dan skiss).
Secara ekonomis, zircon ditemukan dalam bentuk butiran (ukuran pasir), baik yang terdapat pada sedimen sungai maupun sedimen pantai. Pada umumnya zircon terkosentrasi bersama-sama mineral titanium (rutil dan ilmenit), monazite dan mineral berat lainnya.
Di Indonesia zircon merupakan sedimen sungai yang terdapat di daratan dan lepas pantai. Mineral ini dijumpai bersama-sama dengan mineral kasiterit, dan electrum (Au, Ag) sebagai mineral utama, ilmenit, magnesit, monazite, xenotim, pyrite, mineral sulfida lainnya dan kuarsa. Cebakan keseluruhan mineral ini pada umumnya berasal dari batu granit yang telah mengalami pelapukan dan transportasi.
Zirkon juga merupakan salah satu batuhias (gem­stone) dengan kekerasan 7,5, beraneka warna dan berbentuk kristal tetragonal prismatik; membuat mineral ini mempunyai daya tarik tinggi. Mineral ini sering ditemukan mengandung jejak unsur radio­aktif di dalam struktur kristalnya sehingga bersifat metamik dan tidak stabil, akan menjadi stabil apabila dipanaskan hingga suhu tertentu. Zirkon dengan daya tahan tinggi terhadap pelapukan dan abrasi biasanya membentuk konsentrasi bernilai ekono­mis di daerah-daerah pantai dan gosong pasir yang terletak berkilo-kilometer dari sumbernya.
Pada beberapa kasus, zirkon bersama mineral-mineral berat lain seperti turmalin, fluorit, rutil, dan anatase dapat terbentuk dalam batuan sedimen dolomi­tan melalui proses autogenik; sementara apabila berkaitan dengan kelompok spesifik batuan beku dapat berasosiasi dengan lingkungan pneumatolitik dan kadang-kadang dengan proses paragenesis.
Mineral zirkon dapat ditemukan sebagai butir-butir kristal berukuran kecil di dalam sebagian besar batuan beku dan beberapa batuan metamorf, tersebar dalam jumlah jarang melebihi 1% dari total massa batuan. Secara umum konsentrasi mineral zirkon terbentuk sebagai rombakan di dalam aluvium dan sering berasosiasi dengan mineral berat lain seperti ilmenit, monazit, rutil, dan xenotim.

C.    PROSES PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN
1.              Proses Penambangan
Berdasarkan tipe endapan zircon yang merupakan endapan alluvial, penambangan dilakukan dengan menggunakan kapal keruk, bulldozer, dragline dan lain-lain peralatan yang biasanya digunakan untuk menambangan bijih alluvial.
Di P. Bangka, P. Belitung dan P karimun kundur, zircon ditambang bersama-sama dengan kasilterit. Penambangan dilakukan oleh PT. Tambang Timah dengan cara;
·                Tambang semprot (konvensional dan tambang besar )
·                Kapal keruk, tambang mekanis
Pada pemisahan menggunakan meja goyang, distribusi partikel dipengaruhi oleh sifat-sifat riffle, permukaan deck, water supply, perbedaan bentuk, ukuran partikel dan ada tidaknya material yang termasuk middling atau material interlog atau partikel dengan sebagian material berat dan sebagian material ringan. Riffle (penghalang) merupakan perangkat dukung yang berfungsi untuk membentuk turbulensi dalam aliran sehingga partikel ringan diberi kesempatan berada diatas dan partikel berat relatif dibawah. Gaya yang bekerja pada meja goyang antara lain gaya dorong alir dan gaya gesek. Gaya dorong alir merupakan fungsi kecepatan relatif aliran air dan partikel Dalam prosesnya, partikel bergerak dengan kecepatan yang dipengaruhi oleh kedalaman air. Gaya Gesek terjadi antara partikel dengan dasar deck (alas alat).
Berdasarkan pada ukuran besar butir material yang dipisahkan, meja goyang dapat dibedakan menjadi “sand table” dan “slime table”. Perbedaan pada kedua alat ini terletak pada jumlah dan jarak antar Riffle. Jumlah riffle pada Sand Table sangat banyak sedangkan jumlah riffle pada Slime Table sedang. Jarak antar riffle sand Table antara ¼ hingga 1 ¼ inch sedangkan Slime Table lebih besar daripada Sand Table. Selain itu Sand Table, ada bagian deck yang tidak diberi riffle digunakan untuk slime sedangkan pada Slime Table, ada bagian deck yang tidak dipasang riffle. Kapasitas shaking table (meja goyang) tergantung pada jumlah air, jumlah Strore, sifat bijih, slope, meja dan ukuran feed.
Macam Meja Goyang yang lain adalah Willey Table, Butcher Table, Card Tabel. Card Field Table, Plat of Table, dan Dister Diagonal Overslorm Table. Meja Goyang Willey Tabel terdiri dari deck berbentuk segi empat dan “Headmotion” sebagai penggeraknya. Ketinggian riffle minimal ½ feed dan lebar ¼ feed(5). Meja Goyang Bucher Table mempunyai bentuk hampir sama dengan Willey, tapi memiliki watch plinger untuk mencuci. Posisis riffle terbagi menjadi zone stratifikasi, cleaning zone dan dischange zone. Mekanisme kerjanya, material bergerak ke kiri dan air bergerak ke kanan, sehingga material ringan akan terbawa arus air sedang material berat akan berjalan terus. Meja Goyang Card Table yakni meja goyang dengan riffle dibuat dengan mengerat deck dengan bentuk segitiga dan headmotion. Meja goyang Dister Diagonal Overslorm Table yakni meja goyang dengan berbentuk Deck Rombahedral. Pemisahan antara konsentrat, middling dan tailing tidak jelas / berdekatan sekali Meja Goyang Card Field Table yakni meja goyang dengan berbentuk Wafley Table yang ditutupi seluruhnya oleh riffle, sedangkan meja goyang Plat of Table meja goyang yang mempunyai ciri utama di atas deck ada tiga macam riffle dan terdapat tiga zona dari riffle yaitu zone Stratifikasi, zone Intermediate Plan dan zone Lipper.




2.      Pengolahan
Pengolahan zircon termasuk sangat komplek karena selain memisahkannya dari mineral pengganggu (gangue minerals), tetapi juga dipisahkan dari mineral-mineral berat lainnya (multi mineral processing).
Pengolahan kalsiterit, zircon, dan mineral berat lainnya dilakukan oleh PT. Tambang Timah dalam dua tahap, yaitu:
a.              pengolahan di tambang
pengolahan disini dilakukan dengan menggunakan sluice box dan jig. Tujuan pengolahan tersebut adalah untuk menghasilkan konsetrat kalsiterit beserta mineral ikutanny, termasuk zircon.
b.              pengolahan di pusat pencucian bijih timah
pengolahan dilakukan terhadap konsetrat tambang dan kapal keruk. Metode dan peralatan yang digunakan terdiri atas pemisahan gravitasi (meja goyang, klasifier, jig), pemisahan listrik (high tension separator) dan pemisahan magnit (rapid magnetic separator). Produk pengolahan adalah kalsiterit, ilmenit, monazite, xenomit, dan zircon (gambar 2)
Pasir zirkon yang berasal dari hasil samping pertambangan emas dan timah memiliki kadar zirkon rendah (marginal) antara 30-45 % sehingga perlu dilakukan peningkatan kadar (beneficiation) dengan pemisahan. Pemisahan mineral dapat dilakukan dengan cara Konsentrasi Grafitasi (Gravity Concentration) berdasarkan perbedaan berat jenis dengan perkiraan Kriteria konsentrasi.
Konsentrasi Gravitasi adalah proses pemisahan material-material yang berharga dan tidak berharga dalam suatu bahan galian akibat gaya-gaya dalam fluida berdasarkan/tergantung pada perbedaan density, bentuk dan ukuran. Perangkat yang sering digunakan pada proses ini, antara lain; Shaking Table (Meja Goyang), Jig, Panning, Sluice Box, Humprey Spiral atau Hydrocyclone.
Meja Goyang merupakan perangkat pemisahan material dengan cara mengalirkan air yang tipis (Flowing Film Concentration) pada suatu meja bergoyang yang dilengkapi dengan reffile (penghalang. Prinsip Kerja Shaking Table adalah perbedaan berat dan ukuran partikel terhadap gaya gesek akibat aliran air tipis. Faktor yang mempengaruhi kinerja Shaking Table antara lain :
a.              Ukuran dari feed.
b.              Operasional (roughing/cleaning).
c.              perbedaan Spesifik Grafity.

Tabel 1. Kandungan mineral utama timah dan ikutannya
No.
Nama mineral
Rumus kimia
Massa jenis g/cm3
Kemagnetan
Kelistrikan

1
Zircon
ZrSiO4
4,6 - 4,7
Non magnetis
Non Konduktor
2
Kasiterit
SnO2
6,8 – 7,1
Non magnetis
Konduktor
3
Kuarsa
SiO2
2,6 -2,7
Non magnetis
Non Konduktor
4
Pirit
FeS2
4,8 – 5,1
Non magnetis
Konduktor
5
Ilmenit
FeTiO2
4,5 – 5,0
Magnetis
Konduktor
6
Rutil
TiO2
4,1 – 4,3
Non magnetis
Konduktor
7
Hematit
Fe2O3
4,9 – 5,3
Non magnetis
Konduktor
8
Monasit
(Ce,La,Y,Th)PO4
4,9 – 5,3
Non magnetis
Non Konduktor
9
Xenotim
YPO4
4,5 – 4,6
Magnetis
Non Konduktor
10
Tourmalin
Na(Mg,Fe)Al6 (BO3)(Si6)18(OH)14
3,0 – 3,2
Non magnetis
Non Konduktor
11
Galena
PbS
7,5
Non magnetis
Konduktor
12
Topaz
Al2SiO4(OH,F)2
3,4-3,6




Pada pemisahan menggunakan meja goyang, distribusi partikel dipengaruhi oleh sifat-sifat riffle, permukaan deck, water supply, perbedaan bentuk, ukuran partikel dan ada tidaknya material yang termasuk middling atau material interlog atau partikel dengan sebagian material berat dan sebagian material ringan. Riffle (penghalang) merupakan perangkat dukung yang berfungsi untuk membentuk turbulensi dalam aliran sehingga partikel ringan diberi kesempatan berada diatas dan partikel berat relatif dibawah. Gaya yang bekerja pada meja goyang antara lain gaya dorong alir dan gaya gesek. Gaya dorong alir merupakan fungsi kecepatan relatif aliran air dan partikel Dalam prosesnya, partikel bergerak dengan kecepatan yang dipengaruhi oleh kedalaman air. Gaya Gesek terjadi antara partikel dengan dasar deck (alas alat).
Berdasarkan pada ukuran besar butir material yang dipisahkan, meja goyang dapat dibedakan menjadi “sand table” dan “slime table”. Perbedaan pada kedua alat ini terletak pada jumlah dan jarak antar Riffle. Jumlah riffle pada Sand Table sangat banyak sedangkan jumlah riffle pada Slime Table sedang. Jarak antar riffle sand Table antara ¼ hingga 1 ¼ inch sedangkan Slime Table lebih besar daripada Sand Table. Selain itu Sand Table, ada bagian deck yang tidak diberi riffle digunakan untuk slime sedangkan pada Slime Table, ada bagian deck yang tidak dipasang riffle. Kapasitas shaking table (meja goyang) tergantung pada jumlah air, jumlah Strore, sifat bijih, slope, meja dan ukuran feed.
Macam Meja Goyang yang lain adalah Willey Table, Butcher Table, Card Tabel. Card Field Table, Plat of Table, dan Dister Diagonal Overslorm Table. Meja Goyang Willey Tabel terdiri dari deck berbentuk segi empat dan “Headmotion” sebagai penggeraknya. Ketinggian riffle minimal ½ feed dan lebar ¼ feed(5). Meja Goyang Bucher Table mempunyai bentuk hampir sama dengan Willey, tapi memiliki watch plinger untuk mencuci. Posisis riffle terbagi menjadi zone stratifikasi, cleaning zone dan dischange zone. Mekanisme kerjanya, material bergerak ke kiri dan air bergerak ke kanan, sehingga material ringan akan terbawa arus air sedang material berat akan berjalan terus. Meja Goyang Card Table yakni meja goyang dengan riffle dibuat dengan mengerat deck dengan bentuk segitiga dan headmotion. Meja goyang Dister Diagonal Overslorm Table yakni meja goyang dengan berbentuk Deck Rombahedral. Pemisahan antara konsentrat, middling dan tailing tidak jelas / berdekatan sekali Meja Goyang Card Field Table yakni meja goyang dengan berbentuk Wafley Table yang ditutupi seluruhnya oleh riffle, sedangkan meja goyang Plat of Table meja goyang yang mempunyai ciri utama di atas deck ada tiga macam riffle dan terdapat tiga zona dari riffle yaitu zone Stratifikasi, zone Intermediate Plan dan zone Lipper.
Gambar 1. Proses pemisahan memakai meja goyang dengan media air

Langkah kerjanya adalah meja goyang disiapkan dengan cara motor penggerak meja dan motor pengatur umpan dihidupkan. Air sebagai media dialirkan dan diatur kecepatannya pada 15 liter permenit. Ditimbang pasir zirkon seberat 50 kg dan dimasukkan ke dalam tangki pengumpan (feeder). Pasir dialirkan dan diatur kecepatannya pada 17 kg perjam. Hasil proses diambil dan dilakukan penimbangan dilanjutkan analisis menggunakan XRF. Hasil pemisahan menggunakan meja goyang dan dianalisis mengunakan XRF disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2. Analisis hasil proses pemisahan menggunakan XRF (%)

ZrO2
Ti O2
Si O2
Fe O2
Sn O2
Cr O2
Al2 O3
Nb O2
Mn O2
Head sample
54,1
5,4
21,1
2,4
0,6
0,5
0,4
0,1
0,1
Konsentrat
60,9
5,6
5,6
2,7
1,0
0,6
0,5
0,2
0,3
Midlling
40,3


13,1
6,6
3,5
1,2
0,7
1,2
0,3
0,2
Tailing
36,1
10,6
16,3
8,6
0,3
1,4
0,8
0,5
0,4
Pada Tabel 2. tampak bahwa kandungan zirkon dalam konsentrat (60,9 %) lebih besar dibanding dalam head sample atau pasir zirkon yang belum diproses (54,1 %) hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi adanya pemisahan antar partikel. Selain itu, silikon (SiO2) dalam konsentrat (5,6%) lebih rendah dibanding pada middling (6,6%) maupun di tailing (16,3%), hal ini menunjukkan bahwa pengotor silikon yang terletak pada permukaan mineral zirkon dapat dipisahkan. Terpisahnya silikon karena massa jenis Si sangat rendah atau ringan yaitu 2,33 g/cm3 jauh lebih rendah dibandingkan dengan zirkon (6,51g/cm3) atau unsur lainnya (Ti, Fe, Sn, Cr, Al, V, Mn, Nb) sehingga mudah terdorong / terbawa lebih cepat dari partikel berat searah aliran. Keberadaan silikon dalam konsentrat yang masih banyak, diduga silikon ini melekat menjadi satu dengan zirkon membentuk zirkonat (ZrO2.SiO2). Pengotor Si ini diharapkan dapat dipisahkan pada tahap lanjutan (proses kimia) yakni pelindian menggunakan air. Pengotor pengotor seperti Ti, Fe, Sn, Cr, Al, V, Mn, Nb diharapkan dapat dipisahkan secara metode fisika lainnya misalnya sifat kemagnetannya dengan konsentrasi magnetic, perbedaan sifat kelistrikan digunakan konsentrasi elektrostatik dan perbedaan sifat permukaan partikel untuk proses flotasi atau cara kimia lainnya.

Gambar 2. Pemisahan Listrik Menggunakan High Tension Separator

Gambar 3. Pemisahan Magnet Menggunakan Rapid Magnetik Separator

di Kalimantan tengah, zircon ditambang bersama-sama dengan bijih emas ole PT. Ampalit Mas Perdana. Zircon yang dihasilkan merupakan kosentrat sluice box, akibatnya kadar zircon tersebut masih sangat rendah (30 %zirkon).

D.      KEGUNAAN DAN SPESIFIKASI 
1.    KEGUNAAN
Penggunaan zircon sangat bervariasi, baik sebagai mineral industri (non-logam), maupun mineral logam (Gambar 3). Pasaran zircon dunia sebagian besar digunakan sebagai mineral industri, yaitu untuk pasir cetak (foundri), bata tahan api (refraktor), keramik dan gelas, kimia zirconium, dan lain-lain.
a.       Keramik dan Gelas
Pada industry keramik dan gelas, zircon yang digunakan berbentuk zirkonia, PSZ (partially stabilized zirkonia), dan tepung zircon (micronized zircon).
Ø Tepung Zirkon
Tepung zircon pada keramik terutama berfungsi sebagai glasir opak (opacifier glazes), hal ini disebabkan zircon mempunyai indeks refraksi cukup tinggi. Zirkon di sini menggantikan peranan Sn-oksida untuk menghasilkan keramik putih dan keramik berwarna yang bermutu tinggi, khususnya keramik untuk keperluan rumah tangga (table ware) dan keramik ubin (tile ceramic).
Persentase pemakaian zircon sebagai glasir opak adalah 13% dari total bahan glasir yang digunakan. Bahan-bahan glasir lainnya adalah pasir silika (28%), feldspar (27%), kaolin (9%), witherit (5%), dan Zn-oksida (4%).
Sebagai frit-enamel, tepung zircon digunakan untuk melapisi logam (baja dan besi tuang). Walaupun jumlah pemakaian zircon sangat kecil dibandingkan TiO2, dengan pengguanaan zircon lebih baik, terutama dalam proses pelapisan secara kering untuk menghasilkan produk peralatan dapur dan kamar mandi.
Ø Zirkonia
Dalam industry gelas, zirkonia (fused zircon) digunakan untuk menghasilkan gelas-gelas yang berkomposisi khusus, seperti gelas optic, gelas fiber, gelas TV berwarna, dan lain-lain.
PSZ (Partially Stabilized Zirkonia)
Khusus untuk menghasilkan keramik rekayasa dan Listrik, sekarang ini telah dibuat bahan dasar keramik yang berasal dari zircon yaitu PSZ. Produk PSZ yang telah dikembangkan ada dua macam, yaitu:
·      PSZ yang Dibuat dengan Menggunakan CaO dan MgO
keramik yang dihasilkan mempunyai kekuatan dan ketahanan yang lebih baik, jika dibandingkan dengan keramik konvensional (SiC, Si3, dan Al2O3). Produk keramik ini telah digunakan untuk komponen mesin/ motor, pompa kimia, dan nozel (mulut pipa).

·      PSZ yang Dibuat dengan Menggunakan Yttrium Oksida (Y2O3)
Keramik yang dihasilkan lebih stabil dan mempunyai konduktivitas panas rendah, selain mempunyai ketahanan dan tahan lama. Keramik jenis ini sangat sesuai untuk pembuatan komponen adiabatic mesin diesel, seperti pelapis silinder, kepala piston, dan katup.
Kegunaan PSZ lainnya adalah untuk pembuatan elektroda yang dapat berfungsi untuk mengontrol ratio antara bahan bakar dan oksida di dalam mesin. Keadaan ini tidak saja menyangkut masalah lingkungan, tetapi juga masalah efisiensi mesin mobil dan penghematan pemakaian bahan bakar. Produk keramik untuk elektroda tersebut telah dikembangkan oleh perusahaan NGK-insulator (Jepang).
b. Refraktori
Zirkon dapat dibuat menjadi bata tahan api yang digunakan untuk melapisi tungku peleburan baja dan gelas. Zirkon yang digunakan ada dua jenis, yaitu AZS refraktori dan zirkonia-mullit. Pemakaian kedua bahan ini sebagai refraktori karena secara kimia mempunyai sifat netral serta ketahanan terhadap panas mendadak yang sangat baik. Zirkonia-mullit digunakan dalam bentuk batangan dan nodul yang disusun secara beraturan.
Pemakaian zircon secara langsung untuk refraktori pada umumnya digunakan sebagai ladle brick. Refraktori ini dapat digunakan pada suhu hingga 3600oF.
c. Pasir Cetak (Foundri)
Zircon sangat sesuai digunakan sebagai pasir cetak karena sifat-sifatnya:
-       Pengantar panas yang sangat tinggi, sehingga proses pendinginan beralangsung empat kali lebih cepat bila dibandingakan dengan pasir kuarsa,
-       Tidak reaktif terhadap logam lain,
-       Butiran zircon berbentuk bulat dengan permukaan bersih serta sesuai dengan semua jenis binder,
-       Membutuhkan binder lebih sedikit dibandingkan dengan pasir cetak lainnya,
-       Ukuran tetap stabil walaupun terjadi peningkatan panas,
-       pH zircon netral atau sedikit asam.
Sebagai pasir cetak, zircon umumnya digunakan untuk menghasilkan produk cetakan yang mempunyai permukaan halus. Selain zircon, fused zirkonia juga digunakan sebagai pasir cetak, khususnya pencetakan gelas secara kontinu.

d.   Abrasif
Produk zircon yang umumnya digunakan sebagai abrasif adalah alumina-zirkonia. Abrasif jenis ini ada dua kelompok, tergantung prosentase zirkonia yang digunakan, yaiitu:
-                 AZ-abrasif (25% zirkonia).
-                 NZ-abrasif (40% zirkonia).
AZ-abrasif terutama digunakan dalam hubungannya dengan pengerjaan bahan-bahan yang berasal dari logam, seperti steel billet, automotif, dan lain-lain. Di pasaran NZ-abrasif ada dua jenis, yaitu E347 (bonden abrasif) dan E349 (coated abrasive). NZ-abrasif terutama digunakan sebagai mata (bit) pada mesin pemotong untuk batu hias (marmer dan granit) dan sebagai bola penggerus (grinding wheel).
Sebagai abrasif, pasir zircon dapat juga digunakan secara langsung, yaitu sebagai sandblast menggantikan fungsi pasir kuarsa.

e.    Kimia Zirkonium
Dalam industri kimia, zirkonia digunakan untuk pembuatan zirconium sulfat, H2ZrO2(SO4)2.3H3O. bahan kimia ini sangat penting karena merupakan bahan dasar dalam pembuatan kimia zirkonium lainnya. Zirkonium sulfat digunakan sebagai bahan untuk penyamakan kulit (tanning leather) dan bahan tambahan pada pigmen titania ( berfungsi sebagai penstabil pigmen). Produk kimia zirkonium lainnya beserta tujuan penggunaan adalah
-       Zirconium oxyclorida, sebagai bahan pelapis (coating) pada tekstil
-       Zirkonium tetrachlorida, sebagai bahan pemurnian Al dan Mg
-       Zirkonium karbonat sebagai obat ( berbentuk salep) utntuk melawan racun yang berasal dari tumbuh-tumbuhan
-       Zirkonium hydrat sebagai moderator neutron.

f.               Zirkonia
Zirkonia merupakan produk zirkon yang sangat penting karena penggunaanya yang sangat luas, baik sebagai penggatnti zirkon itu sendiri maupun bahan yang digunakan untuk menghasilkan produk-produk berteknologi tinggi

Zirkonia (termasuk fused zirkonia), selain digunakan pada industri yang telah diurai di atas, juga digunakan sebagai bahan :
-          Piezo – electric dan keramik titanat
-          Pelapis penahan panas pada baling-baling pesawatt terbang, seperti yang telah diproduksi perusahaan Pratt Whitney, General Electric, dan Rolls Royce.

g.              Zirkon sebagai Batu Mulia ( Gemston)
Zirkon yang mempunyai variasi warna dapat digunakan sebagai batu mulia, seperti :
-          Putih bening ( Matara diamond)
-          Jacinth atau hyacinth yang berwarna orange, merah, atau coklat.
-          Jargon atau jaargon (kuning ataupun hijau)
-          Starlite (berwarna biru sebagai hasil dari pemanasan zirkon yang berwarna merah kecoklatan)

h.        Logam  Zirkonium dan Logam Paduan
Logam zirkonium dengan kemurnian mendekati 100% diperoleh dengan cara mereduksi zirkonium tetrachlorida dengan sodium. Logam yang dihasilkan berwarna abu-abu dan bersifat lunak (mudah dibentuk dan dipotong).

Sifat terpenting logam ini adalah anti korosif. Berdasarkan sifatnya ini, logam zirkon terutama digunakan untuk :
-                 Crucible yang digunakan pada laboratorium analit.
-                 Pipa keluaran gas.
-                 Bahan peledak primer (detonator)
-                 Foil pada lampu sorot dan bola lampu kilat kamera
-                 Tabung penukar panas
Dalam jumlah kecil, logam zirkonium digunakan untuk konstruksi pabrik petrokimia, pupuk urea, asam sulfat, dan pabrik asam hidroklorida.
Khusus logam zirkon dengan kemurnian 100% ( unsur hafnium telah dihilangkan) digunakan sebagai tabung bahan bakar radio-aktif pada reaktor nuklir.
Logam paduan zirkon yang banyak terdapat di pasaran, antar lain :
-          Baja zirkonium yang diganakn untuk ganda as roda, poros, batang bor, konstruksi katup – tekan
-          Niobium – zirkonium sebagai superkonduktor
-          Magnesium-logam tananh jaarang-zirkonium yang digunakan pada industri ruang angkasa dan pesawat terbang
-          Zircaloy, terutama berbentuk tabung digunakan pada pembangkit listrik tenaga nuklir

Logam zirkonium terpenting lainnya, terutama dalam bentuk senyawa dengan unsur lain (metal-like compound) adalah zirkonium karbida. Logam ini digunakan sebagai konduktor elektronik, komponen alat pemotong, dan material struktur pada reaktor nuklir.

2.      SPESIFIKASI
a.    Zirkon sebagai Mineral Industri
Kualitas zirkon yang terdapat di pasaran dibagi dalam tiga kelompok yang didasarkan pada penggunaanya, yaitu premium grade (ceramic grade), standard grade (foundry grade), dan intermediate grade. Komposisi kimia utama dan tujuan penggunaan masing-masing kualitas zirkon dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel.2 Spesifikasi Zikon dan Tujuan Penggunaanya
Parameter
Premium
Intermediate
Standard
ZrO2 + (HfO2), %min
66,00
65,50
65,00
TiO2, %maks.
0,10
0,3
0,25
FeO2, %maks
0,05
0,07
0,15
Kegunaan
-      Refraktori gelas
-      Zirkonium silikat
-      Keramik mutu tinggi
-          Refraktori baja
-          Keramik
-          Foundri
-        Refraktori baja
-        Foundri



Ukuran butir zirkon yang pada umumnya digunakan terdiri atas milled zircon (+200 mesh atau +300 mesh) dan micronized zircon ( 1.5 mikron atau 10 mikron), tetapi dalam pemasaran ukuran ini tidak begitu penting.

Berbeda dengan zirkon, baddeleyit yang dipasarkan mempunyai kandungan ZrO2 lebih tinggi, karena unsur utama mineral ini sudah dalam bentuk ZrO2, namun di pasaran baddeleyit ini sangat terbatas, hal ini disebabkan oleh cadangan baddeleyit sangat jarang dijumpai di alam.
Produsen baddeleyit terbesar adalah PMC (Palabora Mining Co.) dan Foskor ( Phospate Development Corp.) yang berkedudkan di Afrika selatan. Kualitas produk baddeleyit yang dipasarkan oleh kedua perusahaan ini dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Spesifikasi Baddeleyit Foskar dan PMC
Unsur Kimia
Foska
PMC
BC96
BC99SEF
N
SQ
ZrO2 + HfO2­­1
96,00
Maks. 99,00
98,00
99,00
TiO2
1,00
Maks. 0,30
0,40
0,20
Fe2O3
1,00
Maks. 0,05
0,50
0,20
SiO2
1,50
Maks. 0,50
0,30
0,20
CuO
0,60
Maks. 0,02
0,10
0,10
P2O5
0,20
Maks. 0,01
0,10
Maks. 0,10
ThO2
0,03
Maks. 0,03
0,05
0,05
U2O8
Maks 0,07
Maks.0,07
0,10
0,10
Sumber : Industrial Minerals, october 1981.
1)  Unsur hafnium yang terkandung adalah 1,5-1,9%HfO2

Selain itu pula, PMC memproduksi zirkonium sulfat dengan spesifikasi seperti pada Tabel 4.
Tabel 4. Spesifikasi ZR-sulfat
Unsur Kimia
Spesifikasi
ZrO2 + HfO2
Min. 33,00%
SO4
52,40
H2SO4 bebas
nihil
H2O bebas
Maks. 5,00%
Asam tidak larut
0,30%
Fe2O3
0,05%
TiO2
0,30%
SiO2
0,50%
P2O2
0,05%
Na2O
Maks. 0,01%
LOI pada 10000 C
66,40%
Sumber : Industrial Minerals, october 1981.

a.      Zirkon sebagai Logam
Logam zirkonium murni yang terdapat di pasaran mempunyai kadara 98% dan 100%. Logam zirkon yang mempunyai kadar kurang dari 100% menununjukkan bahwa logam ini masih terdapat unsur hafnium di dalamnya ( 1,5-2,5% berat). Bentuk logam tersebut yang ada di pasaran adalah sponge, plate, cold rolled, dan powder.

Logam paduan (alloy) zirkon terpenting adalah zircolay-2 dan zircolay-4. Unsur logam lain yang terkandung dalam zircolay-2 adalah timah (1,5%), besi(0,12%), chromium (0,10%), dan nikel (0,05%). Sedangkan pada zircolay-4 unsur-unsur logam tersebut sama, kecuali nikel. Dalam logam paduan niobium-zirkonium mengandung sekitar 20-40% zirkonium.

b.      Mineral Substitusi
Terdapat beberapa mineral ataupun produk kimia yang digunakan sebagai bahan substitusi zirkon dalam penggunaanya, seperti :
-          Refraktori : kromit, alumina-magnesia spinel, dan pasir kuarsa.
-          Foundri : pasir kuarsa, kromit, dan olivin
-          Keramik : TiO2 dan Sn-oksida
-          Abrasif : pasir kuarsa dan ilmenit




E.     STRUKTUR EKONOMI
Zirkon merupakan salah satu mineral baru dalam pengadaannya oleh sektor pertambangan di dalam negeri. Akan tetapi pemakaian mineral ini oleh industri hilir di dalam negeri sudah berlangsung cukup lama.
5.1  Produksi
Pengadaan zirkon oleh tambang dalam negeri berlangsung sejak tahun 1984. Zirkon ini berasal dari tambang- tambang di Pulau Bangka dan Pulau Bitung yang dikelola oleh PT. Tambang Timah. Pada tahun 1989, produksi zirkon ditambah dan produk sampingan bijih emas aluvial yang ditambang oleh PT. Amalit Mas Perdana di Kalimantan Tengah.

Produksi zirkon selama kurun waktu 198-1989 menunjukkan angka yang fluktuatif ( Tabel5). Angka – angka produksi ini didasrkan kepada jumlah penjualan zirkon oleh PT. Tambang Timah, baik di dalam negeri maupun ekspor. Produk zirkon yang berasal dari Pt Ampalit Mas Perdana hingga tahun 1990 belum dapat dipasarkan karena mutunya yang sangat rendah.

Beberapa faktor yang menyebabkan produksi zirkon di dalam negeri mengalami fluktuasi, antara lain :
-          Produksi zirkon seluruhnya merupakan produk sampingan (by-product) bijih timah dan emas
-          Penyebaran zirkon, terutama dalam bijih timah tidak menentu, sehingga jumlah produksi zirkon tidak dapat dipastikan berdasarkan jumlah bijih timah
-          Hingga saat ini produksi zirkon masih sangat tergantung kepada permintaan konsumen, baik pasar di dalam negeri maupun ekspor.

5.2  Konsumsi
Di Indonesia, zirkon terutama digunakan pada industri keramik, yaitu sebagai galsir opak. Kebutuhan zirkon pada industri ini mencapai 94% dari total konsumsi rata-rata. Sisanya 6% digunakan pada industri logam dasar (3,5%) dan industri barang-barang logam (2,5%)

Zirkon yang digunakan pada industri logam dasar dan industri barang-barang logam berfungsi sebagai bahan penahan panas (refraktori) dan pasir cetak (foundri).

Jumlah konsumsi zirkon pada industri hilir di dalam
Tabel produksi dan penjualan Zirkon tahun 1984-1989
Tahun
Produksi (ton)
Penjualan Dalam Negeri
Ekspor
PT Tambang Timah
PT Ampalit M. Perdana
Total
Jumlah (ton)
Nilai (000 Rp)
Jumlah (ton)
Nilai (AS $)
1984
73
-
73
-
-
73
11.890
1985
460
-
460
-
-
460
46.000
1986
-
-
-
-
-
-
-
1987
50
-
50
50
18.750
-
-
1988
1.230
-
130
30
10.614
1.200
170.970
1989
277
1.194
1.470
50
33.440
227
51.985
Keterangan :
Kualitas zirkon PT Tambang Timah adalah 60-65% ZrO2
Kualitas zirkon PT Ampalit M. Perdana adalah + 30% ZrO2

Negeri cukup besar. Selama kurun waktu 1985-1988 konsumsi zirkon mengalami peningkatan, yaitu 295 ton pada tahun 1985 menjadi 737 ton pada tahun 1988, atau meningkat 2,5 kali lipat hingga Oktober 1989, konsumsi zirkon telah mencapai 530 ton, dan pada akhir tahun 1989, diperkirakan akan melebihi konsumsi pada tahun-tahun sebelumnya.

Tabel konsumsi Zirkon (dalam ton)
Industri Hilir
1985
1986
1987
1988
1989
Keramik
268
457
537
699
503
Logam Dasar
18
13
18
24
16
Lain-lain
9
9
11
14
11
Total
295
481
566
737
530

Berdasarkan fungsi da kegunaan zirkon, sebenarnya pemakaian zirkon oleh industri di dalam negeri jauh lebih besar lagi, terutama pemakaian secara tidak langsung. Beberapa bahan baku yang diperkirakan mengandung unsur zirkonium dan digunakan oleh industri di dalam negeri adalah
-          Industri penyamakan kulit (tanning material),
-          Industri keramik dan gelas (glasir dan fritenamel)
-          Foundri, refraktori dan abrasit (industri logam dasar dan industri barang-barang logam).
Pengunggunaan produk-produk tersebut terutama refraktori yang menyebabkan konsumsi zirkon pada indusri logam dasar sangat kecil.
Ekspor dan Impor
Ekspor zirkon berlangsung sejak tahun 1984. Ekspor tersebut seluruhnya berasal dari PT Tambang Timah.
Selama kurung waktu 1984-1989, ekspor zirkon memperlihatkan peningkatan dan penurunan bahkan pada tahun 1986 an 1987 sama sekali tidak ada ekspor. Ekspor terbesar terjadi pada tahun1988 sejumlah 1.200 ton dengan nilai AS$ 170.970. besarnya ekspor pada tahun tersebut kemungkinan disebabkan banyaknya stock karena tidak ada permintaan pada tahun sebelumnya. Pada tahun 1989, ekspor zirkon mencapai 227 ton dengan nilai AS$ 51.935 atau turun sekitar 50% dibandingkn dengan ekspor pada tahun 1985 yang besarya 460 ton.
Negara tujuan ekspor zirkon Indonesia adalah Malaysia dan Singapura.
Kebutuhan zirkon oleh industri hilir belum seluruhnya dapat dipenuhi oleh pemasok di dalam negeri (PT Tambang Timah), baik kualitas maupun kuantitas pemasokan dalam jumlah besar. Oleh karena itu, impor mineral ini masih sangat besar, yaitu sekitar 90% dari total konsumsi di dalam negeri.
Selama kurun waktu 1985-1988, impor zirkon mengalami peningkatan. Pada tahun 1985, impor zirkon tercatat sebesar 295 ton, dan pada tahun 1988 meningkat menjadi 707 ton, atau meningkat 2,4 kali lipat. Hingga Oktober 1989, impor zirkon telah mencapai 480 ton.
Impor zirkon Indonesia ini terutama berasal dari Australia.
Tabel Jumlah dan Nilai Impor Zirkon, Tahun 1985-1989
Tahun
Jumlah (ton)
Nilai, 1000 AS$
1985
295
411
1986
481
532
1987
516
570
1988
707
808
1989
480
532
Sumber: Departemen Perdagangan dan Biro Pusat Statistik
Harga Zirkon
Dilaporkan oleh abscomaterials.com bahwa harga zirkon di pelabuhan China pada triwulan III Tahun 2011 telah mencapai USD$2.495 - 2.550/ton, padahal pada triwulan II harga zirkon baru mencapai USD 1.600 dan pada akhir tahun 2010 harga zirkon baru berkisar antara  USD$ 850 - 950/ton. Perkembangan harga mulai awal 2009 hingga akhir triwulan II Tahun 20011 tertuang dalam grafik berikut: 
Gambar : Grafik peningkatan harga zirkon
Gambar : Konsumsi zircon dunia

F.     PROSPEK PENGEMBAGAN
Dimasa mendatang, potensi zirkon di dalam negeri dapat dikembangkan menjadi komoiti bahan tambang yang dapat diandalkan. Ada beberapa faktor yang mendukung pekembangan tersebut antara lain:
-          Ketersediaan potensi sumberdaya zirkon dan kemampuan teknologi
-          Perkembangan industri hilir di dalam negeri
-          Peluang ekspor
-          Ketersediaan cadangan dan kemampuan teknologi
Potensi zirkon di Indnesia berjumlah cukup besar. Walaupun belum terdapat angka pasti yang menunjukkan hal tersebut, akan tetapi penyebaran mineral ini telah diketahui terdapat di daerah Hatapang (Sumatera Utara), Pulau Karimun Kundur  dan Pulau Bintan (Riau), Pulau Bangka dan Belitung (Sumatera Selatan), daerah Kasongan (Kalimantan Tengah), Semboja (Kalimantan Timur), serta daerah Jayapura.
Di Indonesia, mineral ini merupakan mineral ikutan bijih timah (kasiterit) dan bijih emas (elektrum) walaupun kadang0kadang mineral ini lebih dominan (daerah Kasongan dan Semboja).
Faktor lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah kemampuan teknologi penambangan maupun teknologi proses pengolahan. Indonesia (dalam hal ini PT Tambang Timah dan PT Aneka Tambang) sudah sangat berpengalaman dalam mengelola pertambangan mineral berat yang berbentuk endapan aluvial (placer). Tambang-tambang bijih aluvial banyak beroperasi di Indonesia, baik tambang konvensional (tambang semprot) maupun tambang tambang berteknologi tinggi (kapal keruk). Demikian juga halnya dengan proses pengolahan, Indonesia juga telah sangat berpengalaman dalam mengelolah bijih yang dapat menghasilkan beberapa mineral berat sebagai konsentrat (multi-minerals processing).
Perkembangan Insustri Hilir
Perkembangan industri di dalam negeri selama lima tahun terakhir ini memperlihatkan perkembangan yang sangat pesat. Keadaan ini sebagai akibat pengaruh dari kebijaksanaan pemerintah dalam menentukan strategi pembangunan ekonomi, seperti yang tertuang dalam paket-paket deregulasi. Paket kebijaksanaan tersebut akan memberikan suatu jaminan dan kepastian untuk mengembangkan produk industry, investasi baru, dan lain-lain.
Perkembangan zircon dalam kaitannya dengan industry hilir di dalam negeri secara langsung tergantung pada perkembangan industri keramik dan industri logam dasar.

a.       Industri Keramik
Dalam industri keramik, zircon digunakan sebagai glasir opak. Industri keramik pamakai zircon adalah dari jenis yang memproduksi wall tile dan table ware. Kapasitas terpasang kedua jenis industri keramik ini cukup besar. Berdasarkan data Departemen Perindustrian, pada tahun 1989, kapasitas terpasang industri keramik wall tile sebesar 15 juta m2 per tahun dengan jumlah perusahaan 25 buah. Sedangkan kapsistas terpasang industri keramik table ware adalah 265 juta per tahun dengan jumlah perusahaan 24 buah. Tingkat produksi kedua industri keramik ini baru mencapai sekitar 80-85% dari kapasitas terpasang.
Kebutuhan glasir untuk industri keramik dalam lima tahun terakhir meningkat. Dalam kurun waktu 1987-1989, kebutuhan glasri yang diimpor meningkat tajam, yaitu dari 2.011 ton pada tahun 1985 menjadi 6.026 pada tahun 1989 (Tabel 8).

Tabel 8. Impor Refraktori, Foundri, Abrasif, Glasir, dan Frit Enamel

1987
1988
1989
Refraktori
48.246
43.922
48.582
Foundri
1.097
1.238
1.270
Abrasif
2.827
2.333
2.359
Glasir
2.011
2.351
6.026
Frit Enamel
2.235
4.167
6.010
Sumber: Biro Pusat Statistik

Perkembangan impor glasir, memungkinkan untuk pengembangan industri yang menghasilkan produk antara tersebut. Mengingat zircon merupakan salah satu bahan baku utama glasir (13% dari total bahan yang diperlukan) serta bahan baku lainnya juga cukup tersedia, maka keadaan ini dapat membuka peluang bagi pengembangan industri glasir di dalam negeri.

b.      Industri Logam Dasar (Besi-Baja)
Di Indonesia, penggunaan zircon pada industri logam dasar berfungsi sebagai material anti korosi dan penhan panas (refraktori). Pengebangan industri logam dasar sebagai akibat semakin meningkatnya kebutuhan besi baja oleh PT Krakatau Steel dan perusahaan swasta di dalam negeri, yang diperkirakan akan mencapai 5,2 juta ton pada tahun 1993 (Departemen Perindustrian).
Pengembangan industri logam dasar tersebut, selain mengakibatkan peningkata kebutuhan zircon secara langsung, juga secara tidak langsung akan meningkatkan kebutuhan zircon dalam bentuk produk antara, seperti refraktori.
Kebutuhan refraktori oleh industri logam dasar cukup besar, terutama yang berasal dari impor. Keadaan ini menyebabkan pemakaian zircon sangat kecil karena telah dipenuhi oleh pemakai refraktori impor yang sangat besar.
Pengembangan industri refraktori di masa mendatang sangat mempunyai prospek. Keadaan ini selain dapat mendukung pengembangan industri logam dasar, tetapi juga dapat memacu pertumbuhan kebutuhan zircon di dalam negeri

c.       Industri Lain-lain
Industri lain yang juga diperkirakan mengakibatkan peningkatan kebutuhan zircon adalah industri mesin barang-barang loga (peralatan rumah tangga dan kantor), dan industri otomotif (assembling kendaraan bermotor).
Industri tersebut secara tidak langsung membutuhkan zircon dalam bentuk produk-produk antara, seperti:
-          Frit-enamel (industri barang-barang logam).
-          Abrasif (industri barang-barang logam dan otomotif).
-          Foundri (industri mesin dan industri pengecoran).

Kebutuhan produk tersebut sangat besar, dan saat ini masih diimpor dalam jumlah besar. Walaupun pemakaian zircon pada produk tersebut relatif kecil, tetapi pengembangan industri mesin, barang-barang logam, dan industri lokomotif di masa depan akan mengakibatkan peningkatan kebutuhan zircon di dalam negeri, apalagi jika industri yang menghasilkan produk antara tersebut dapat dikembangkan di dalam negeri.

Peluang Ekspor
Pada tahun 1984, Indonesia telah memproduksi zircon, yaitu dalam bentuk penjualan keluar negeri (ekspor). Walaupun demikian, produksi zircon ini masih merupakan produk sampingan bijih timah dan emas, sehingga kualitas dan kontuinitas produksi zircon tidak menentu. Oleh karena itu, untuk lebih meningkatkan ekspor zircon di masa mendatang, potensi mineral ini perlu dikelola lebih professional (bukan sebagai produk sampingan), yaitu dengan cara:
-          Melakukan penyelidikan dan eksplorasi zircon secara rinci sehingga diperoleh data cadangan yang pasti.
-          Penanganan proses pengolahan zircon secara khusus sehingga dapat diperoleh produk yang sesuai dengan spesifikasi pasar. Selain itu, ekspor zircon Indonesia sangat tergantung kepada situasi pemasokan-permintaan zircon dunia saat ini dan di masa mendatang.

Sisi Pemasokan
Sejak tahun 1989, produksi zircon dunia mencapai 860 ribu ton. Negara penghasil zircon utama adalah Australia, yaitu lebih dari 50% total produksi zircon dunia. Negara penghasil zircon terbesar lainnya adalah Afrika Selatan (16%). Amerika Serikat (12%) dan Rusia (10%). Pada tahun yang sama, sejumlah 60 ribu ton zircon (12% total produksi dunia) diproduksi oleh Brazilia, China, India, Nigeria, Malaysia, Thailand, dan Srilangka. Zirkon yang berasal dari negara-negara tersebut pada umumnya berkadar rendah.
Di masa mendatang, produksi zircon dunia diperkirakan meningkat pesat. Pada tahun 1991 produksi zircon diperkirakan 1.400 ribu ton. Pada produk tersebut, Australia masih tetap sebagai pemasok terbesar (Tabel 9).
Harga zircon relatif turun, tetapi diimbangi dengan peningkatan konsumsi zircon dunia yang menjadi bahan pertimbangan peningkatan produksi zircon di masa mendatang.

Tabel 9. Perkiraan Produksi Zirkon Dunia Tahun 2000 (dalam ton)
No.
Negara Produsen
1989
1990
1995
2000
1.
Australia
473
540
610
720
2.
Afrika Selatan
138
160
230
300
3.
Amerika Selatan
103
100
120
140
4.
Negara-negara bekas Eropa Timur
86
90
100
120
Jumlah
860
980
1.160
1.400
Sumber: Mining Journal dan Industrial Minerals International Congress, March 1990.

Sisi Permintaan
Perkembangan konsumsi zircon dunia diasumsikan berdasarkan tingkat pertumbuhan yang berbeda untuk setiap penggunaan zircon tersebut pada industri hilirnya.
a.       Refraktori
Konsumsi zircon untuk refraktori pada tahun-tahun terakhir mengalami penurunan, terutama pada industri logam dasar. Penurunan ini disebabkan oleh pengurangan pemakaian zircon untuk ladle refractory, terutama yang telah dilakukan oleh negara-negara industri.
Penurunan ini lebih terasa lagi karena selama ini industri logam dasar di Jepang menggunakan zircon dalam jumlah sangat besar.
Faktor yang menyebabkan penurunan konsumsi zircon, terutaman oleh industri logam dasar di Jepang adalah pemasokan zircon (dari Australia) tidak dapat mencukupi kebutuhan, sehingga menyebabkan harga meningkat.
Selain itu, sekarang ini telah dikembangkan bahan substitusi zircon, yaitu alumina magnesia spinel (Al2O3 70% dan MgO 28%) yang mempunyai karakteristik lebih baik dari zircon, walaupun harganya jauh lebih mahal.
Sebaliknya, konsumsi zircon untuk refraktori peleburan gelas cenderung meningkat. Tingkat pertumbuhan konsumsi dunia pada industri ini rata-rata 3% per tahun, sedangkan pada industri logam dasar rata-rata 0,7% per tahun.
b.      Foundri
Konsumsi zircon untuk foundry cenderung meningkat. Ini disebabkan sifat fisika zircon yang lebih dibandingkan bahan yang mempunyai fungsi sama seperti chromit, silika, dan olivine.
Penggunaan zircon tidak dapat dihindari, terutama pada pencetakan logam dasar untuk menghasilkan komponen berpresisi tinggim seperti blok-blok mesin aluminium. Tingkat pertumbuhan konsumsi zircon dunia untuk foundry rata-rata 2.6% tahun (Tabel 10).

Tabel 10. Perkiraan Konsumsi Zirkon Dunia, Tahun 1990 -2000

1990
2000
% Pertumbuhan
Foudri
201
259
+2,6%
Refraktori:



-          Besi
177
165
-0,7%
-          Gelas
162
217
=0,3%
Keramik
243
395
5,0%
Kegunaan baru
165
362
+6,4%
Jumlah
978
1.398
+3,7%
Sumber: Industrial Minerals International Congress, March 1990.

c.       Keramik
Perkembangan konsumsi zircon untuk glasir pada keramik ubin (tile) sangat kuat dipengaruhi oleh bidang konstruksi bangunan, baik bangunan komersial maupun perorangan. Warna-warna produk keramik yang menarik dan tahan lama juga merupakan faktor yang mempengaruhi peningkatan konsumsi zircon pada industri ini.
Tingkat pertumbuhan konsumsi zircon dunia pada industri keramik rata-rata 5% per tahun.

d.      Lain-lain
Selain ketiga kegunaan zircon di atas, beberapa kegunaan baru zircon lainnya yang diperkirakan mendorong perkembangan konsumsi di masa mendatang, seperti zirkonia, PSZ, kimia zirconium, logam zirconium, abrasif, dan lain-lain.
Secara bersama-sama, penggunaan zircon untuk tujuan di atas mempengaruhi pertumbuhan konsumsi zircon rata-rata 6,4% per tahun. Secara keseluruhan total konsumsi zircon dunia mengalami peningkatan. Tingkat pertumbuhan konsumsi tersebut rata-rata 3,7 % per tahun. Pada tahun 2000, konsumsi zircon dunia diperkirakan mencapai 1.398 ribu ton (Tabel 9).



Comments
0 Comments

0 komentar: (+add yours?)

Poskan Komentar